Aku lahir dari rahim pagi yang anggun
dan dinginnya malam yang suka bersenandung sendiri
di garis-garis senar yang bergetar
karena angin dewa cinta sudah low
aku terjermus ke jurang tanpa wiwaba
dan kata-kata jadi paku dan asam yang mengecewakan
Jadi kupetik buah-buah dosa menjadi kesepian panjang
Tuhan atau Hantu
api atau embun
malaikat atau iblis
berperang di batinku
Dan ketika kupuisikan
pada akhirnya
aku jadi percaya memang Kau
yang menitiskan daging dan jiwaku
dan mendesahkannya di senar-senar
kegembiraan dan kesepianku
itulah Sketsa Jiwaku
(1986-1989)
Advertisement
Filed under: Puisi